Selasa, 14 Juni 2016

Pilih Mana, Lima Ribu Jadi Gorengan atau Jadi Emas?

Mungkin judul diatas akan jadi pertanyaan satu juta dolar jika ditanyakan sama orang yang lagi puasa. Pertanyaan yang akan membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan jawabannya. Antara investasi buat nikah (kalau udah ada jodohnya), atau investasi perut yang sudah broadcasting bekali-kali.

efek nulis postingan ketika menjelang adzan maghrib :)

Mari lupakan tentang kondisi ‘lagi puasa’ dan kembalikan fokus pada pertanyaan:

“Pilih mana, lima ribu jadi gorengan atau jadi emas?”

Lima ribu jadi emas? Emas apaan lima ribuan? Emas emas yang biasa jualan cilok saos kacang apa gimana?

Mungkin itulah yang ada di benak kita semua ketika mendengar lima ribu jadi emas. Jadi gorengan aja udah syukur, ini malah jadi emas. It's like a mission impossible right? #apasih

Wait! Ngomongin soal Mission Impossible, kayaknya sih belum tayang saat ini di bioskop. Mungkin belum juga di produksi. Atau mungkin karena Bang Tom Cruise yang lagi sibuk nabung duit lima ribuannya jadi emas.

Karena faktanya, lima ribu bisa jadi emas adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang telah diwujudkan oleh Pegadaian dengan program tabungan emasnya. Cukup dengan lima ribu! LIMA RIBU! Sungguh sangat super sekali. Tak heran jika Bang Tom Cruise sampai menunda syuting filmnya.

Tabungan Emas adalah layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan dengan harga yang terjangkau. Layanan ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berinvestasi emas.
Begitulah pengertian program tabungan emas yang aku stalking langsung dari website Pegadaian. Sekali-kali boleh lah stalking hal-hal beginian. Demi investasi masa depan... haha.

Hal yang dulu sering kita lakukan saat ke Pegadaian

Pegadaian tidak lagi hanya menjadi tempat untuk melakukan transaksi gadai barang. Semakin berkembangnya zaman, Pegadaian bak sedang mencoba berevolusi untuk lebih memberikan pelayanan dan kenyamanan lebih kepada masyarakat. Salah satunya adalah dengan program tabungan emas ini. Jadi ngga usah kaget kalau melihat anak-anak muda kece ke pegadaian untuk masa depan mereka. Siapa tau juga itu ternyata aku. Hahaha



Banyak sekali keuntungan yang kita bisa dapat saat menabung emas di pegadaian. Selain untuk masa depan tentunya. Berikut adalah beberapa keunggulan yang berhasil aku usut setelah stalking.
  1. Pegadaian Tabungan Emas tersedia di Kantor Cabang di seluruh Indonesia (sementara hanya tersedia di Kantor Cabang Piloting).
  2. Pembelian emas dengan harga terjangkau (mulai dari berat 0,01 gram).
  3. Layanan petugas yang profesional.
  4. Alternatif investasi yang aman untuk menjaga portofolio aset.
  5. Mudah dan cepat dicairkan untuk memenuhi kebutuhan dana Anda.

Prosedur Tabungan Emas Pegadaian
  1. Membuka rekening Tabungan Emas di Kantor Cabang Pegadaian hanya dengan melampirkan fotocopy identitas diri (KTP/ SIM/ Passpor) yang masih berlaku.
  2. Mengisi formulir pembukaan rekening serta membayar biaya administrasi sebesar Rp. 5.000,- dan biaya fasilitas titipan selama 12 bulan sebesar Rp. 30.000,-.
  3. Proses pembelian emas dapat dilakukan dengan kelipatan 0.01 gram dengan atau sebesar Rp. 5.480,- untuk tanggal hari ini (13-06-2016). Misalnya jika ingin membeli 1 gram, maka harganya adalah Rp. 548.000,- .
  4. Apabila membutuhkan dana tunai, saldo titipan emas Anda dapat dijual kembali (buyback) ke Pegadaian dengan minimal penjualan 1 gram dan Anda dapat menerima uang tunai sebesar Rp. 527.000,- untuk tanggal 13-06-2016.
  5. Apabila menghendaki fisik emas batangan, Anda dapat melakukan order cetak dengan pilihan keping (5gr, 10gr, 25gr, 50gr, dan 100gr) dengan membayar biaya cetak sesuai dengan kepingan yang dipilih.
  6. Minimal saldo rekening adalah 0.1 gram
  7. Transaksi penjualan emas kepada Pegadaian dan pencetakan emas batangan, saat ini hanya dapat dilayani di Kantor Cabang tempat pembukaan rekening dengan menunjukan Buku Tabungan dan identitas diri yang asli.

#MenabungUntukMasaDepan

Selain itu, segala transaksi beserta pendaftarannya bisa kita lakukan secara online. Jadi bisa kita akses dan pantau dari mana saja dan kapan saja. Pantes Bang Tom Cruise bisa daftar juga. Semuanya online sih, jadi ngga ada lagi yang namanya batasan wilayah.

Jadi, lima ribu jadi gorengan atau jadi emas?

Share:

Jumat, 03 Juni 2016

Jus Apel Ironi di Jum'at Pagi



Untuk beberapa alasan, aku mencoba mengeraskan pikiran ketika bangun tidur tadi. Menoleh kanan dan kiri mengamati jalanan di pagi hari. Mencari secuil inspirasi untuk ditukarkan berkah hari ini.

Jus apel segar ku beli guna membantu inspirasi itu datang. Namun nyatanya ini bukan seperti jus apel yang aku bayangkan. Tetapi lebih terasa seperti jus susu dengan sedikit banget rasa apel. Jus dimana porsi es batu dan susunya, lebih banyak dibandingkan buah apelnya. Ah! Sungguh sebuah "ironi di pagi hari".

Aku duduk santai disamping gerobak sederhana jus buah tadi. Menikmati suasana kota Bangkalan dari jalan tepi. Memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang tanpa henti. Seakan-akan kesibukan semua orang pagi itu tumpah ruah di jalanan.

Ketukan demi ketukan ku arahkan pada layar persegi berukuran 5 inchi. Sembari sesekali menikmati jus apel yang diselimuti ironi. Mencoba mendapatkan sesuatu untuk diperhatikan diantara padatnya kesibukan jalan. Menyulam kata demi kata dengan perlahan. Berharap jadi satu postingan yang akan terpampang di blog nanti. 

Intinya, nulis!


***


Hari ini, bisa dibilang biasa aja. Sama seperti hari-hari yang lalu. Cicilan project tugas kuliah. Percobaan menghibur diri yang kadang sampai kelewatan seharian. Menjadwalkan apa yang akan dilakukan meski pada akhirnya tetap jadi 'jadwal'. Juga sedikit hal-hal yang anak muda lakukan biasanya.

Dan kegiatan awal yang aku mulai untuk pagi ini adalah bayar pajak sepeda motor.

Yes! Pekerjaan yang 'anak muda' banget! Haha.

"Anggap saja lagi jalan-jalan"

Persepsi yang coba aku tancapkan dalam pikiran sambil memanaskan mesin motor. Mengecek kondisi ban depan dan ban belakang. Takutnya posisi mereka tiba-tiba dekat karena kangen sudah lama terpisahkan #hallah. Menarik nafas dalam-dalam. Dan mengeluarkannya secara perlahan selaras dengan tarikan gas di tangan kanan. Let's go gaess...

Tiba-tiba!

"Din!". 

Suara lantang menghatam keras gendang telingaku.

"Din! Tunggu din!". 

Suara yang menghentikan tarikan gas motorku.

"Tunggu!". 

Dengan berlari-lari kecil dia menghampiri ku. Dan...

#pakk!

Tangan itu meraih pundakku.

Suara lantang yang merdu, lari-lari kecil yang sendu, hingga dekapan hangat di bahu. Mungkin itu semua akan jadi begitu syahdu jika pemilik suara dan tangan tadi adalah seorang wanita cantik pemeran utama ftv.

Namun sayangnya, ini bukan televisi... gaes!. Si pemilik suara tadi, adalah bapakku. Ya, pemilik suara lantang dan orang yang lari mengejarku adalah bapakku.

"Nak, kamu salah motor... ayo balikin sama yang punya". Ucap bapakku syahdu.

Hening sejenak.

Aku tatap motor yang aku tumpangi. Aku tatap kembali ke mata bapak. Seakan-akan ada isyarat untuk menoleh ke belakang. Dan ketika aku menoleh. Benar saja, si empunya motor langsung membalas tatapanku tajam. Seakan-akan berkata :

"Cakep juga nih bocah! Leh uga nih dibawa pulang".

Oh men! Sangat manis sekali. Seandainya tatapan itu ngga datang dari seorang bapak-bapak bertampang preman ala sinetron pukul 7 malam. Sekali lagi! Kita ngga lagi ada di televisi. Tapi aura bapak-bapak ini membawa kita disitu bak sedang ada di salah satu scene ftv.

#cut!

Oke. Tanpa basa basi aku turun dengan perlahan. Meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Tak lupa juga memasang muka melas penuh harap pengampunan. Dan mengganti motor. Melakukan pengecekan 'safety riding' seperti biasa. Dan yang paling penting melakukan pengecekan, ini motor bapak udah bener apa belum.

Yosh! Mari tancap!

Aku berangkat dengan pasti, menyusuri jalanan di jum'at pagi. Tempat tujuanku adalah kantor Samsat Bangkalan. Bayar pajak bro! Biar jadi warga negara yang baik dan benar.  Dan motorku melaju dengan santainya.


***

Agak kesiangan sepertinya.

Begitulah gambaran yang terlintas di pikiran ketika melihat segerombolan pelajar SMP turun dari angkot. Sedikit bernostalgia dengan seragam coklat yang mereka gunakan. Masa-masa dimana angkot kosong adalah prioritas dan duduk di kursi sebelah supir adalah sebuah kesenangan tesendiri. Ah... umur!

Aku terus memacu laju motor dengan sederhana. Seakan nostalgia tadi menjadi lagu pengiring dalam sebuah cerita. Waktu pun ikut terhanyut karenanya. Tanpa sadar, aku sudah memasuki daerah kota, dan sampai di kantor Samsat Bangkalan. 

Aku menyalakan lampu sein kiri, dan mulai memutar kendali dengan hati-hati. Tepat ketika aku melewati gerbang, seorang lelaki paruh baya menyambut kedatanganku dengan senyumnya. Tanpa berkenalan pun, aku sudah bisa menebak siapa beliau. Aku bergegas menuju tempat kosong diantara jejeran sepeda lainnya. Memastikan posisi sepeda motor sudah mantap dan melepas helm. Aku sempat menoleh ke arah pria paruh baya tadi. Lagi-lagi, beliau mensuguhkan senyumannya. Namun kali ini sedikit berbeda. Seakan-akan beliau berkata :

Kita akan bertemu lagi setelah kamu selesai, pemuda!

Ya. Dialah orang yang menyambut kedatanganku, juga orang yang akan melepasku pergi di Samsat hari itu. Selamat bertugas! Pak parkir!

Aku bergegas menuju sebuah loket di belakang kantor Samsat untuk membeli map. Yang kalau ngga salah, beberapa bulan yang lalu harganya masih Rp. 1000 per buahnya. Sekarang sudah berevolusi menjadi Rp. 5000 per buahnya. Wow kah? Positif thinking sajalah ya. Mungkin bahan untuk membuatnya lebih ‘berkualitas’ dibanding beberapa bulan yang lalu.

Ngga ada yang spesial selama aku melakukan pembayaran pajak. Semua ketentuan dan alurnya sudah terpampang jelas di sebuah papan yang ada dalam ruangan pendaftaran. Tinggal baca persyaratannya, lengkapi dan daftarkan formulir dengan map ‘berkualitas’ beserta STNK dan KTP asli di dalamnya. Dan proses menunggu pun dimulai.

Sempat terbesit untuk melakukan testing pada toilet yang ada di Samsat. Tapi jariku sudah terlanjur beradu dengan keyboard virtual di handphone untuk menyelesaikan target hari ini. Nulis!

Lebih dari sepuluh paragraf tercipta ketika proses menunggu pembayaran pajak. Sampai akhirnya nama bapakku disebut melalui sound system untuk menghadap loket dua. Pembayaran dilakukan. Dan selesai! Mudah kan? 

Jadi... kapan bayar pajak? Hahaha

Aku keluar Samsat dilepas dengan ikhlas oleh Pak Parkir sesuai janjinya. Masih dengan orang yang sama, baju yang sama, serta senyum yang sama saat beliau menyambut kedatanganku.

Sempat berpikir untuk langsung pulang. Tapi sepertinya, 10 pragraf yang aku rangkai tadi harus segera kulanjutkan. Selagi semangatnya masih ada, tinggal menambah sedikit suasananya. Dan Stadion Gelora Bangkalan adalah tempat yang ku tuju selanjutnya. Tempatku mengadu jari-jari sekali lagi. Hingga jadilah tulisan ini.

Ini adalah sebuah tulisan yang ku buat pada hari Jum’at pagi. Tentang pagi berganti siang dengan melakukan kegiatan yang ‘anak muda’ banget! (baca: bayar pajak sepeda motor). Dan menghabiskan segelas jus apel ironi sebagai penutupnya.
Share:

Sabtu, 12 Maret 2016

7 Tipe Pengguna Toilet Umum Modern

Sebagai salah satu manusia yang lebih banyak keluar masuk toilet, aku, selalu berusaha memperhatikan sekitar. Memperhatikan siapa aja yang ku temui di dalam toilet. Memperhatikan siapa aja yang nggak nyiram. Memperhatikan siapa tau ada cewek cantik! ahay!

*sek, bukannya toilet yang ku masuki toilet cowok yah :3*.

Ah! Intinya... memperhatikan siapapun yang kurang perhatian. #ciegitu

Akhirnya, setelah semua perhatian itu, aku berhasil menyimpulkan sebuah teori yang sangat sangat SANGAT biasa aja. Hal itu adalah:

7 Tipe Pengguna Toilet Umum Modern


Tipe Soulmaters

Tipe ini biasanya terdiri dari dua orang. Mulai dari masuk ruangan toilet, mereka selalu bersama. Ngobrol di dalem toilet bersama. Membasuh tangan atau wajah di wastafel bersama. Seakan-akan kita pengguna toilet lain itu nggak ada. Hanya ada mereka berdua. Bersama... hidup bahagia, selamanya.

-End-

Tipe Sotoyers

Tipe ini kemungkinan adalah pengguna yang baru kali pertama masuk ke toilet modern. Masuk dengan muka songong, gaya *sok* cool abis. Giliran mau nyiram bingung nyari gayung. Bingung mau mencet tombol yang mana. Alhasil segala tombolpun di pencet. Mulai dari tombol lampu, alarm kebakaran, hingga tingkat paling extream mencet tombol lockscreen HP. Lebih tepatnya, HP orang di sebelahnya. Dan di wastafel, tipe ini sering pake sabun cuci tangan buat cuci muka.

Tipe Observatifers

Hampir sama dengan tipe sotoyers, hanya bedanya tipe ini sadar kalau dia emang baru pertama kali masuk toilet modern. Mukanya nggak sok banget, malah terkesan biasa aja. Dan selalu memperhatikan pemakai toilet yang lain. Ngeluarin catatan, kaca pembesar, serta buku kumpulan rumus fisika, cuma untuk mengobservasi bagaimana caranya nyiram tanpa harus mencet segala tombol yang ada.

Tipe Overcool

Masuk dengan raut muka sok cool... ya aku akui emang mukanya cool sih. Putih, mulus, nggak berminyak dan nggak berdebu. Ngecling! Seperti tanpa kaca. Macam bintang iklan sabun cuci muka lah. Penggunaan toiletnya sih normal-normal aja. Cuma pas udah di wastafel, pengguna lain nggak bakal ada yang ngaca sampai dia selesai ngaca. Bukannya kenapa, peralatan make-up nya men, menuhin wastafel. Mulai dari minyak rambut, parfum, segala macam krim. Mungkin bentar lagi salon pindah ke situ. Haha.

Tipe Klinis

Bisa dibilang tipe ini adalah tipe yang paling bersih. Bahkan, bersihnya ngalahin toilet modern. Dan karena itu pula, sebelum menggunakan toilet dia selalu menyemprotkan pembersih. Antioksidan, antikuman, antivirus, antibaper, dan anti-anti yang lainnya. Sampai benar-benar bersih dan teruji secara klinis sesuai Standart Nasional Indonesia (SNI). Ribet? Nggak usah ditanya, ngeliatnya aja njrumet.

Tipe Sosialita

Bukan seperti ibu-ibu arisan. Tipe ini adalah tipe yang sangat addict dengan media sosial. Memasuki toilet dengan pandangan terpaku pada layar smartphone-nya.  Begitu melihat kaca wastafel, langsung ngaca lalu cekrak cekrek. Check-in Path, upload Instagram, Twitter, Facebook, Snap chat, WhatsApp, BBM, Line, Friendster, Youtube.  Setelah itu, dia keluar toilet. Iya, dia ke toilet cuma numpang eksis. Fasilitas sesungguhnya dari toilet terabaikan. Sungguh sangat disanyangkan ~

Tipe Normal

Masuknya normal, keluarnya normal, penggunaannya juga normal. #udahgituaja


Gimana? Masuk di tipe manakah kalian? Nggak usah terlalu serius... haha. Mau tipe manapun, yang paling penting adalah jangan lupa nyiram toilet. Jangan lupa menjaga kebersihan. Jangan lupa pula menjaga perasaan. *penulisnya sepertinya lagi baper hahaha*.

Ingat, Kebersihan sebagian dari iman lho ya...

Semoga bermanfaat gaes!


Sumber gambar : foongpc.com
Share:

Selasa, 01 Maret 2016

#AlongPolong: Kopdar Asik Bareng Kapolda Jatim


Setelah sekian lama berlagak jadi orang *sok* penting, akhirnya... aku sempat ngerasain gimana jadi orang yang sedikit penting kemarin. Lebih tepatnya amat sedikit banget. Bisa duduk, diskusi, hingga ketawa bareng sama Bapak Kapolda Jawa Timur beserta jajarannya.

Bertempat di R.M. Ole-Olang Bangkalan, turut hadir pula empat Kapolres langsung dari empat kabupaten di Madura. Kapolres Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan duduk bersama satu kursi malam itu. Bahkan masing-masing dari mereka, menyumbangkan suara emas mereka pada acara tersebut. Aku jadi sempet tolah-toleh kanan kiri. Memastikan ini masih acara kopdar atau udah ganti jadi program kompetisi menyanyi. Alhamdulillah ternyata masih acara kopdar. *padahal udah siap ngirim sms dukungan buat Kapolres Bangkalan, hehe*

Acara ini isinya orang-orang penting di jajaran Polda Jatim. Lalu gimana ceritanya aku bisa nimbrung disini? Ya nyelundup laaaahh haha... *canda*

Kopdar ini dilaksanakan guna mempererat tali silaturahmi antara Polda Jatim dengan netizen. Nah, pada acara ini aku tergabung di netizen wilayah Bangkalan, Madura. Nggak hanya dari Bangkalan atau Madura, malam itu hadir pula perwakilan netizen dari Surabaya, Malang, Lamongan, Jember, Probolinggo, dll. Maaf buat yang nggak kesebut, nggak hafal hehe.


Penampakan Netizen Jatim

Selain untuk silaturahmi, acara ini juga sebagai ajang untuk kita speak-up tentang isu-isu yang melekat dengan polisi. Merluruskan berita-berita yang masih simpang siur. Diskusi bareng dan akan langsung dijawab oleh Kapolda Jatim, Bapak Anton Setiadji. Lalu, kita sebarkan pembenaran info-info tersebut di internet.

Seperti pembahasan tentang adanya isu pencegatan truk-truk di tengah jembatan Suramadu malam itu. Bapak Kapolda membenarkan tentang adanya penjagaan di tengah jembatan setiap malamnya. Guna mencegah peredaran narkoba dan senjata ilegal terkait terorisme. Jadi tidak semua truk diberhentikan.

Berbagai macam pertanyaan terlontar, namun tetap dengan suasana santai. Mulai dari masalah tilang, rambu-rambu lalu lintas, pengurusan kartu tanda penduduk, hingga meminta giliran untuk diadakan kopdar di daerah lain. Sayangnya, nggak ada yang nanya nomer HP mbak-mbak polwan yang bikin salah fokus ini nih. Hahaha


#abaikan mas mas yang ditengah :V
Intinya, sebagai netizen kita harus membantu mengklarifikasi gosip-gosip miring yang beredar mengenai kepolisian. Dan yang pasti tetap dengan apa adanya, tanpa di embel-embeli. Terima kasih jajaran Polda Jatim sudah berkunjung ke Madura.
Share:

Jumat, 26 Februari 2016

Jum’at Barokah dan Hashtag AlaMenilai


Hari jum’at adalah hari paling barokah dalam seminggu. Terutama bagi kita para kaum muslim. Bahkan ustadzku pernah berkata:

Nak, speaker nyalain gih, sudah mau adzan” #loh?

#ehm, maaf salah skrip!

Hari jum’at adalah lebarannya orang islam dalam seminggu”.

Begitu spesialnya hari jum’at hingga diumpamakan lebaran yang biasanya terjadi selama setahun sekali. Lebay? Ah... tidak juga. Buktinya memang banyak sunnah-sunnah yang bisa dilakukan di hari jum’at. Seperti membaca surah Al-Kahfi di hari Jum’at dan lain sebagainya. Bahkan bagi para pria-pria muslim diharuskan sholat jum’at di Masjid. Nggak lebay lah kalau beberapa orang gemar mengupdate status “Jum’at Mubarok + *emotikon angel*” di socmednya.

Tapi menurut aku pribadi sih, yang membuat hari jum’at barokah itu bukan karena harinya. Bukan karena tanggalnya, cuacanya, apalagi abang-abang es buah yang nangkring pinggir jalan. Melainkan lebih ke arah apa yang kita lakukan di hari jum’at. Kalau cuman update status “Jum’at Mubarok” lalu tetap seperti hari-hari biasa ya percuma. Merengkuh secuil barokah pun tidak.

Maka dari itu ketika jum’at tiba, lakukanlah hal-hal positif sebanyak-banyaknya. Caranya? Gampang! Sini duduk sama papah ~ #inicumapencitraan

Papah kasih contoh... #eh aku kasih contoh dari hal yang paling simpel. Mulai dengan melakukan hal-hal biasa dengan cara berbeda!

Seperti yang ‘katanya’ sedang booming akhir-akhir ini di hapeku. Acara paling hits! Seantero WhatsApp! *WhatsAppku*. Acara paling rame dan gokil meski tanpa penonton bayaran. Acara hacep! dengan berjuta manfaat yang nggak akan bisa ditemukan di tempat lain.

Hashtag AlaMenilai (#AlaMenilai)

#AlaMenilai adalah sebuah acara 'ngrumpi berbobot' yang diadakan setiap jum’at malam, di grup WhatsApp Komunitas Blogger Madura (Plat-M). Dipimpin langsung oleh mantan ketua umum Plat-M Nurwahyu Alamsyah, live dari Taiwan. Dengan tema serta tantangan-tantangan seru di setiap minggunya.

Tujuan utama #AlaMenilai ini adalah untuk menggelorakan kembali semangat menulis dari member-member Plat-M yang selama ini hilang. Sekaligus sharing bagaimana menulis yang baik dan benar. Apalah arti blogger kalau nggak konsisten nulis! Bukan begitu?

Selain tema dan tantangan, akan ada satu dari sekian juta member Plat-M yang akan korek blognya. Apa kekurangannya, kelebihannya, bagaimana baiknya, hingga detail gaya penulisannya. Semua itu di nilai langsung oleh mas Wahyu Alam. Dan itu... MAHAL! #CAPSLOCKJEBOL

FYI: toiletman.xyz masih belum di korek! Haha

Salah satu tantang yang paling aku suka di #AlamMenilai adalah merangkai paragraf. Jadi setiap anggota yang online pada acara itu, dipilih secara random untuk membuat satu paragraf dengan tema yang sudah ditentukan di awal. Dilakukan dengan pemilihan random selanjutnya, membuat satu paragraf juga dan harus berkaitan dengan paragraf sebelumnya. Begitu seterusnya hingga menghasilkan sebuah tulisan yang selanjutnya di posting di blog Plat-M. Tentunya dikoreksi terlebih dahulu untuk pembelajaran. Gregetnya, waktu kita untuk membuat satu paragraf hanya lima menit. Lumayan lah buat olahraga jari.

Membahas berbagai hal tentang Madura, mencoba bertukar pikiran untuk melihat Madura dari sisi yang lebih positif dan menduniakannya. Menyebarkan info-info positif guna merentang jarak perspektif negatif dari Madura. Nggak berlebihanlah kalau aku punya harapan suatu saat nanti, berawal dari acara ngrumpi berbobot ini, bisa mencetuskan ide-ide brilian untuk membantu membangun Madura.

Lebih dari itu, yang lebih wow di #AlaMenilai ini adalah rasa kekeluargaan yang begitu kuat antara anggota Plat-M. Berbagai celetukan nyeleneh menggelitik ditengah panasnya diskusi, hingga arah diskusi yang tiba-tiba jadi gosip. Seakan-akan malam itu kita berkumpul bersama, melipat batas jarak yang ada diantara kita.

*kok kayak syair lagu ya? Haha #abaikan!*

Sedikit meniru closing ala #AlaMenilai. Suatu saat, menulis akan menjadi hal yang paling membosankan. Akan pula menjadi hal yang paling menyenangkan. Bahkan dapat merubah hidup seseorang. Kita hidup dengan kisah dan cara yang berbeda. Dan menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikannya.

Wassalam...
Share:

Kamis, 11 Februari 2016

3 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Sebelum Menggunakan Toilet Umum


Fasilitas pertama yang akan aku cari ketika sampai di suatu tempat adalah toilet. Apalagi ketika cuaca dingin, baru diguyur hujan, kebanyakan minum es, atau diguyur es mungkin. Nggak usah ditanya lagi aku bakalan kemana.

Kemana emang?

Ya diskotik lah ajebeh ajebeh -___-

Ya ke toilet elah! Pake ditanya

Akan tetapi bekat kebiasaan itu, aku udah tau gimana rasanya masuk ke berbagai macam toilet. Mulai dari yang nggak layak pakai, biasa aja, modern toilet, semi modern, sampai yang over modern dimana ada iklan diskon makanan di dalamnya. Entah apa filosofinya, tapi intinya aku pernah masuk ke situ.

Berbagai macam kondisi udah pernah aku alami. Saking banyaknya, doain aja mungkin bisa dijadikan novel suatu saat nanti. Hingga akhirnya aku menarik sebuah kesimpulan, bahwa ada hal-hal penting yang harus dilakukan sebelum menggunakan toilet umum.

1. Membaca doa sebelum masuk toilet

Aku seorang muslim. Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk selalu memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemanapun kaki melangkah. Tak terkecuali ke dalam toilet. Dan aku yakin, agama lainnya juga sama dalam hal ini.

Permasalahannya adalah... berdoakah anda? Haha.

Sepele memang, tapi jarang yang melakukan. Termasuk aku sih. Kadang juga lupa, haha. Jadi mulai sekarang, jangan lupa berdoa ya. Agar terhindar dari mara bahaya ketika masuk toilet. Kan nggak lucu ntar kalau masuk rumah sakit gara-gara kepleset di toilet. Masuk headline beritanya nggak enak.

“Terpleset di Toilet Umum, Jomblo Dilarikan ke Ruang ICU

Haha


2. Membawa botol air minum

Ini sangat sangat penting. Sekali lagi aku tulis, ini sangat sangat sangat penting! *bold + italic*. Terutama bagi kita kaum muslim. Kenapa begitu? Mari aku ulas hal ini sedikit lebih dalam.

Salah satu hal yang menyebabkan najis, adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan di tubuh manusia. Nggak usah diperjelas insyaallah udah pada ngerti lah ya. Iya, BAB sama BAK. Dan media untuk menyucikannya adalah air. Namun sekarang, toilet-toilet modern kebanyakan nggak menyediakan air untuk bersuci. Sudah ala kebarat-baratan, pake tisu.

Bersihkah? Aku berani jawab iya. *asal pas lagi bersiin nggak buru-buru*. Sucikah? Aku yakin nggak! Lalu bagaimana kita mau beribadah ketika gagal bersuci di toilet?. Disinilah fungsi botol air minum tersebut.

Di setiap toilet modern pasti ada wastafel. Nggak tau wastafel? Wastafel itu tempat cuci muka, yang biasanya cerminnya dijadikan media selfie di dalam toilet itu tuh. Nyengir deh pasti yang pernah selfie di cermin toilet :p. Nah, kan bisa isi botol disitu buat bersuci.

Trus trus? Kalau toiletnya toilet umum? Nggak ada wastafelnya, nggak layak pakai, atau airnya dikit dan bau? Ngisi botol air dimana?

Haha gampang! Tinggal keluar aja dari toilet. Cari toko terdekat. Beli deh air mineral buat bersuci. Simple kan... hahaha.


3. Bawa uang recehan

Lebih tepatnya uang pecahan kecil. Pecahan seribu, atau dua ribuan. Untuk memudahkan kita jikalau toilet umum yang kita pakai bertarif. Dan... mmmmm... m...mmmmm.... *mikir keras*.

#udahgituaja

Mungkin cukup sekian dan terima kasih hahaha. Nggak terasa udah satu jam setengah aku menemani.
*ngelirik jam cieee*

Satu hal lagi, ketika menggunakan toilet umum harap jaga kebersihan. Karena yang bakalan masuk kesitu bukan hanya anda yang lagi baca! *kalau ada yang baca sih*, tapi orang lain juga, aku juga. Masak lu tega ngasih aku sisa-sisa ‘perjuanganmu’. Cukup lu aja, yang ngerasain. Nggak usah bawa-bawa orang lain... oke!

Sip!


Wassalam!
Share: