Jumat, 08 Juni 2018

Pengalaman Beli Laptop Online dan Bagaimana Setelah Satu Tahun Lebih Pemakaian


Jaman sekarang, siapa sih yang ngga pernah belanja online? Masyarakat, terutama kaum milenial kekinian pasti sering mengecek website jual beli online seperti Lazada, Shopee, Tokopedia, OLX, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin diantara dari mereka mengaktifkan notifikasi khusus setiap ada promo dan diskon terbaru. Salah satunya ya aku pribadi. Hehe.

Namun, dibalik maraknya fenomena jual beli online saat ini, tak sedikit pula masyarakat yang masih ragu-ragu dan takut untuk berbelanja secara online. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang kapok karena pernah kena tipu. Ada yang takut cuma karena denger cerita si orang yang kena tipu tadi. Ada yang takut karena si penjual ternyata mantan pacarnya dulu. Atau bahkan, ada yang takut ketika lihat isi dompetnya sendiri. Kosong. Gelap. Dan penuh sarang laba-laba. Itu dompet apa kolong lemari? Hahaha.

Bagiku, sebenarnya belanja online ini bisa dibilang susah-susah gampang. Gampangnya tentu saja karena proses belanja bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan ketika aku di toilet sekalipun. Susahnya ialah mencari toko yang tepat dengan harga bersahabat. Klasik lah ya, pengen barang paling bagus, mentereng, tapi murah. #LOGIKAMANUSIA.

Selain itu, aku juga tidak memungkiri, pernah beberapa kali kecewa ketika barang yang sampai ternyata tidak sesuai dengan ekpektasi. Tetapi kekecewaan tersebut alhamdulillah ngga sampai bikin kapok. Karena dari situ pula, aku belajar bagaimana cara memilih barang di toko online yang baik dan benar ala toiletman.

Salah satu pengalaman pembelian online paling suksesku adalah pembelian laptop online yang akan aku bagikan kali ini. Sejak dari pertama kali membeli, terhitung sudah 1 tahun sekian bulan lebih laptop ini menemaniku. Kondisinya memang sudah tak terlalu mulus. Namun untuk performa, sudah sangat cukup dan memuaskan untuk kebutuhan kuliahku di bidang Teknik Informatika. Sekedar gambaran kasar saja, laptop minimal untuk anak Teknik Informatika, berada pada kisaran harga 4 – 5 juta keatas (harga baru). Itu pun, kadang masih ngelag, atau berat.


Nah, laptop yang aku beli kemarin adalah salah satu series Inpiron dari Dell. Prosesornya masih kelas intel i3 generasi kedua (ketika tulisan ini dibuat, kalau tidak salah keluaran terbarunya sudah generasi ketujuh). 500 HDD dengan RAM 4 GB. Harga ketika aku beli ialah sekitar Rp. 2.8 jutaan. Ya, menurutku, ini sangat terjangkau pada saat itu. #ehm lebih tepatnya, harga yang paling bisa dijangkau oleh dompetku yang kosong, gelap, dan penuh foto laba-laba. Ya gimana, mau masukin fotomu, belum sah #hilih.


Ada beberapa alasan mengapa aku ingin mengganti laptopku pada saat itu. Yang pasti sih, karena spek laptop lamaku sudah dirasa tak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Awalnya, aku masih ingin tetap membeli laptop secara offline. Karena membayangkan sebuah alat elektronik, yang kondisinya second, harus dibungkus dan ditumpuk-tumpuk bersama barang lain ketika pengiriman, jujur aku masih rada ngeri. Belum lagi kalau pas sampai ternyata barangnya tidak sesuai. Kemudian ditambah kalau yang jual ternyata mantan gebetan. Masih gebetan, mantan pula. Kan ngeri.

Namun karena pengetahuanku perihal laptop masih cupu, seperti mengenai berapa kisaran harga untuk kebutuhan speknya, akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat harga yang ada di toko online. Ya, iseng yang berujung kepincut akhirnya. Harga-harga yang ditawarkan di beberapa toko online benar-benar sangat menggiurkan. Bahkan aku dulu sempat menemukan laptop dengan harga 2 jutaan, dengan spek hampir setara laptopku sekarang. Kondisinya masih baru pula. Tapi sekali lagi, belajar dari pengalaman, aku tak langsung percaya begitu saja. Salah satu kekecewaanku dulu juga akibat terlalu terpaku pada harga murah. Nah, biar ngga kecewa lagi, aku pun memutuskan untuk menelusuri jejak si toko online lebih jauh.

Pada bagian informasi toko, mereka menyertakan kontak PIN BBM. Demi menghilangkan kecurigaan, ya aku invite lah pin BBM tersebut. Singkat cerita, invitanku di accept. Kemudian mulai ku tanyakan apakah punya toko offline, dimana alamatnya, barangnya ready atau tidak, sudah makan apa belum, dan lain sebagainya. Aku pun berhasil mendapatkan alamat toko offlinenya meski ternyata alamat tersebut tidak sesuai dengan yang dicantumkan di website. Jeng jeng jeng… bukannya hilang curiga, malah makin tidak percaya. Hingga kemudian, aku datangi alamat tersebut karena masih di daerah Surabaya, dan benar saja. Fix! Ayu Ting Ting! (baca: alamat palsu).

Well, harapan yang tak sesuai dengan kenyataan itu memang berat… kamu nggak akan kuat… biar aku saja. #salahskripWOI

Agak kecewa dan kesel sih sebenarnya. Tapi di sisi lain juga bersyukur karena untung belum sempat beli. Tapi… yaudahlah ya… yang lalu, ya biarlah berlalu. Seakan tak jera, aku pun tetap melakukan pencarian leptop second lagi. Namun kali ini tak hanya harga saja yang aku perhatikan. Melainkan juga detail informasi tokonya, rating, komentar para pembeli yang sudah berbelanja di toko tersebut, dan yang pasti kamu #heleh!. Begitulah bagaimana akhirnya aku resmi meminang si Dell Inspiron yang aku pakai hingga sekarang ini.

Oiya, leptop ini aku dapatkan di BukaLapak. Nama tokonya ialah Liknawati. Jujur sih, rasa deg-degan sebenarnya masih ada. Hanya saja, karena aku melakukan pembayaran melalui rekening bersama BukaLapak, di mana sesuai ketentuan yang berlaku, uang baru akan diterima sang penjual ketika aku sudah konfirmasi barang. Jadi ya semisal tidak sesuai, aku masih bisa mengajukan banding. Ternyata, deg-degan ku entah kenapa membuahkan sedikit hasil. Yakni charger leptop yang aku dapat tidak bisa berfungsi dengan baik. Langsung saja aku chat si penjual dan langsung dibalas beberapa saat kemudian. Gak kayak ngechat ke kamu yang dibalesnya se-dekade kemudian #halah. Aku mengajukan komplainku perihal charger tersebut, dan tanpa panjang lebar mereka langsung mengirimkan charger pengganti kepadaku. Alhamdulillah. Gak jadi kecewa dua kali.

Dari pengalaman belanja online kali ini, aku benar-benar mendapat banyak pelajaran. Terutama dalam bagaimana memilih toko online yang baik dan benar. Kurang lebih caranya ialah :
  • Cek info detail toko
  • Pastikan mekanisme pengajuan pengembalian barang tidak ribet (biasanya info ini ada di deskripsi/detail toko)
  • Cek komentar orang-orang yang pernah membeli (usahakan cari komentar paling buruknya, karena kalau lihat yang bagus bagus ya percuma)
  • Pastikan harganya murah dan masuk di akal.

Mungkin cukup sekian cerita pengalaman pertama belanja leptop yang sekarang ku sebut pacarku ini. #dasarJomblo! Kurang lebihnya mohon maaf, dan…

Wassalam!
Share:

Jumat, 09 Maret 2018

Lapis Kukus Pahlawan Varian Terang Bulan - Roti Kukus, Tapi kok Terang Bulan


Sudah 8 bulan++ ternyata blog terkeceh versi majalah mewarnai anak TK ini tidak update, gaes! Ada yang kangen ngga ya kira-kira?... Haha *ngga ada*. Yasudah deh. *hiks*

Tapi seandainya memang ada nih, ya fans *kok ngarep bang :v*. Penantian panjang kalian akan berakhir hari ini kok. Karena pada kesempatan kali ini, aku akan membagikan sebuah pengalaman ‘pertama kali’-ku untuk yang kesekian kalinya. Ya, masih tetep agak norak sih sebenarnya, tapi ya namanya juga pengalaman pertama, selalu kek ada manis-manisnya gitu. Sayang kalau ngga dibagikan.

Bagi yang baru jadi fans blog ini ya, sebelumnya aku sudah pernah menulis pengalaman pertama kali nyobain naik pisang nggambang, pertama kali ke gili genting, serta pertama kali nonton bioskop 3D. Nah kemarin, aku juga punya pengalaman pertama kali yang baru. Yaitu pertama kali makan roti lapis kukus, rasa terang bulan.

Hmmmmmm.... 

Tunggu tunggu. Roti kukus rasa terang bulan? Itu sebenarnya roti kukus apa terang bulan? Itu makanan kan? Bukan peranakan hasil perkawinan silang ya kan? Atau jangan-jangan, si terang bulan ini pelakor roti kukus? Atau...

OKE STOP! SSSStttttt! Ssssssssstttt!

Santai ya. Sebelum mulai membahas pelakor... Eh, roti kukus rasa terang bulan ini, kalian sudah pernah makan roti kukus belum? Roti lembut dengan tekstur dan rasa nikmat ini banyak disukai oleh kebanyakan orang lho. Termasuk aku pribadi.

Buat kalian yang berdomisili di Surabaya, atau mungkin pernah maen sedikit ke Surabaya, pasti tau donk oleh-oleh khas Lapis Kukus Pahlawan Surabaya yang terkenal banget itu. Kalau masih belum tau, kalian harus berhenti ngaku-ngaku orang surabaya deh ya. Mending itu KTP gadaikan aja ke warteg terdekat. Mayan dapet nasi bungkus sayur lodeh ikan pindang *pengalaman*. Aku aja yang tiap ke Surabaya update status karena saking jarangnya tau kok, masak warganya sendiri ngga tau.

Pengalaman pertamaku kali ini tepatnya terjadi pada hari minggu kemarin (04/03). Aku memiliki kesempatan hadir ke acara grand launching varian baru dari Lapis Kukus Pahlawan, yang bertajuk #EkstrapHora2018 di Tugu Pahlawan. Bagi yang ngga tau apa itu acara launching karena follower IGnya masih 900an nih ya #uhhuk, acara launching itu sama kayak acara peluncuran pertama sebuah produk. Dalam kasus kali ini, produk yang akan di launching ialah varian baru lapis kukus rasa terang bulan tersebut.

Pagi itu, aku berangkat dari rumah ketika matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Sama kayak aku kalo ketemu kamu di deket toilet kemaren. Malu aku. Resletingku kebuka ternyata. #okeskip!. Ku pacu motorku Menembus dinginnya pagi kota Surabaya dengan panduan maps di genggaman tangan. Ya, selain pertama kali mau makan roti kukus yang legitnya ampun-ampunan itu, aku juga baru pertama kali berkunjung ke Tugu Pahlawan seumur hidup. HAHA. NORAK BGT LU!

BODO AMAT YANG PENTING MAKAN ROTI ENAK! HAHAHA!
Setelah mengalami sedikit ketersesatan dan beberapa putar balik, padahal ya udah pake maps bahahaha, akhirnya aku sampai di Tugu Pahlawan disambut dengan senam zumba yang sedang berlangsung. Senam zumba ini merupakan bagian dari rangkaian acara yang ada di #ExtrapHora2018 hari itu. Selain senam bareng, ada pula lomba fotografi, lomba vidgram, serta lomba platting. Bagi yang belum tau platting nih ya, catet wahai follower IGnya yang beli, platting itu semacam lomba menghias makanan di atas piring, dengan cara mencorat-coret *menceorat-coret gak tuh, wkwk* pake saos atau permen yang dibentuk sedemikian rupa. Kurang lebih seperti itulah ya pengertiannya. Maklum, toiletman mana tau begituan.

Sekian lama menanti, akhirnya saat-saat yang ditunggu pun tiba. Yaitu launching varian terbaru dari Lapis Kukus Pahlawan, rasa terang bulan. Awalnya, aku juga agak bingung sih, roti kukus tapi kok ya rasa terang bulan. Apa si roti kukus ini sudah tidak percaya diri lagi dengan dirinya? Sehingga dengan begitu mudahnya membuang jati dirinya sebagai roti dan menamai dirinya sendiri sebagai terang bulan. Atau memang pelakor... Ngga tau juga lah.

Namun yang pasti, semua anggapan tak masuk akal tersebut seakan terpatahkan ketika aku mencicipi varian lapis kukus terang bulan ini.


Secara penampilan, lapisan roti kukus varian terang bulan ini terdiri dari 3 lapis. Yaitu roti cokelat dibagian bawah, kemudian ada roti kukus rasa terang bulan pada bagian tengah, dan bagian paling atas yaitu topping kacang dan krim lezat. Namun ketika digigit secara bersamaan, sebenarnya ada lapisan tak kasat mata yang tersembunyi. Yaitu krim cokelat dan keju diantara lapisan roti cokelat dan roti terang bulan. Sebagai penggemar berat cokelat, aku benar-benar sangat meyukai paduan coklat, kacang, dan krim yang ada pada varian ini. Semua rasanya menyatu andra & the backbone. Sempurna. Kemudian ditambah lagi kelembutan tekstur roti yang serasa lumer ketika dikunyah di mulut.


Secara keseluruhan rasa varian terang bulan ini enak banget. Meskipun buatku pribadi rasanya terlalu penuh dan padat sehingga tidak bisa dimakan dalam porsi banyak sekaligus. Oleh karena itu, varian ini cocok bila dijadikan camilan ngumpul bareng teman, karena bila mereka memiliki selera sama sepertiku, mereka ngga bakalan ambil banyak-banyak. Bisa hemat kita. Hahaha.

Nah, buat yang belum nyobain varian baru terang bulan ini, tenang aja, sekarang sudah bisa dibeli di toko-toko terdekat kok. Atau mungkin mau dijadikan sebagai pengganti terang bulan buat ngapel ke rumah pacar. Calon mertua juga bosen keles kalo dibawain terang bulan terus. Kreatif lah! Haha!

Selamat mencoba! Gaes!

Wassalam!
Share:

Senin, 10 Juli 2017

Iseng, Nonton Transformers : The Last Knights Versi 3D


Sebelum lanjut membaca, tulisan ini bukanlah sebuah review film. Cuma iseng aja. Isinya mungkin bakalan lebih banyak bahas tentang bagaimana ekspresi dan ke-norak-an ku yang 'agak' kaget ketika mendengar dentuman suara “duarrr!”, ledakan “boom!” di medan perang, terngaga ketika melihat metode perubahan bentuk dari truk menjadi robot kemudian sebaliknya. Lebih ngerasa ngga pantes aja sih, kalo ngasih judul review. Siapalah juga aku, mau sok-sok an ngereview film dengan budget jutaan dolar ini. Bikin instastory saja yang nonton cuma 13 orang. 1 orang keluarga sendiri. 2 orang akun zombie. 10 sisanya ngga sengaja kepencet.


***

Menonton film bagiku sudah bagai candu. Meskipun ya ngga mau munafiq sih, kebanyakan biasanya emang nonton ya dari bioskop dengan imbuhan .com, .net, .tv, dan sebangsanya. Tergantung yang belum di block yang mana. Namun seiring bertumbuh tebalnya kumis dan jenggot, serta harapan ingin memiliki dirimu, pengetahuan tentang bagaimana susahnya pembuatan film, apresiasi effort dan ide yang di godok berbulan-bulan, hingga sebagai alibi buat sekedar PDKT sama gebetan #uhuk. Nonton di bioskop sudah punya kesan dan nilai tersendiri buatku.

Jujur, untuk menonton film di bioskop, aku adalah orang yang pilih-pilih. Kecuali kalo nontonya dibayarin #ehm. Simpelnya, kalau menurut beberapa reviewer ternama yang muncul di page pertama gugel filmnya bagus, barulah pergi nonton. Juga lebih mengutamakan film produksi Indonesia. Ngga mau sok-sok-an cinta produk lokal, soalnya link download film luar keluarnya cepet. #udahgituaja Haha. Namun, Transformers : The Last Knight ini bisa dibilang adalah pengecualian di pasca lebaran kali ini. Kembali ke persepsi awal tadi sih. Ketika baca-baca review film Indonesia yang tayang pasca lebaran, agak gimana gitu. Nah pas nyampe di bioskopnya, eh ternyata versi 3Dnya cuma selisih 5rb saja dari harga tiket biasa. Jadilah nyari pinjaman ke adek yang sengaja aku ajak karena pendapatan uang THRannya bejibun. Kakak yang tydak mendydyk ~

Tiket pun di print dengan bunyi “cekiiit-cekiiit” dari mesin pencetak tiket. Uang pinjaman dibayar. Lalu dengan senyuman aduhai mbak-mbak rok belahan *hampir* sepaha, aku pun masuk dan duduk bersebelahan dengan mbak-mbak tadi.

Loh mbak?

Loh mas?

Mbak?

Mas?

Mb...

Mas... Masuknya ke pintu theater 4 ya mas... Jangan di meja kasir. Ini tempat buat beli karcis.


Seketika mata pria-pria dan bapak-bapak yang ngantri di depan kasir menatapku dengan aura kasih membunuh. Panas. Amarah. Bergelora. Membara. Mera...

#plak!

Mari bapak antrian selanjutnya...

***


Aku pun duduk di kursi sesuai dengan kode-kode basi yang tertera di tiket nonton. Tak lupa ku cek juga apakah disampingku masih si mbak-mbak rok belahan *almost* sepaha tadi atau bukan. Kacamata yang katanya 3D pun sudah kupegang sebagai perlengkapan supaya fimnya jadi 3D. Buat yang belum tau, kacamata ini dipinjami ketika masuk theater kok, ngga harus beli. Uang buat makan sama gebetan setelah nonton, aman. Relax.

Ngga penting sih sebenarnya, tapi ini adalah kali pertama aku nyobain nonton film di bioskop versi 3D. Jadi rasa excited akan seperti apa filmnya nanti benar-benar sangat mendebarkan. Ibarat kamu duduk diantara dua pasangan muda-mudi di dalem bioskop gelap, sisi kanan saling pegangan tangan, sisi kiri pelukan, dan kamu sendirian. nontonnya film horor. Deg-esdegannya banget. Parah. Kebagian ena-ena ngga, malah kecipratan dosanya. Semoga kita semua dijauhkan dari situasi 'jahanam' tersebut. Amiiin~

Saking excited-nya, aku bahkan pakai itu kacamata 3D sejak pemutaran trailer-trailer film sebelum film utamanya mulai. Buka pasang lagi. Buka pasang lagi. Buka lagi pasang lagi. "Kok ya ngga ada bedanya ya?", pikirku sembari melanjutkan buka pasang kacamata 3Dnya. Haha. Norak. Banget. Parah. Hih!

Finally! Tepat ketika filmnya dimulai, kacamata 3D ini rasanya ya eman banget kalau tak lepas. Gambar, texture, bahkan subtitlenya pun ikutan jadi 3D. Benar-benar seperti timbul dari layar. Malah kalau kacamatanya di lepas filmnya jadi agak burek. Ketika dipasang lagi, filmnya hampir seperti nyata. Ingat lho ya, hampir. Ya sama kayak harapan-harapan yang dikau berikan kepadaku, sepertinya nyata, nyatanya hampa #uhh. Tapi sebenarnya efek timbul itu normal sih, emang akunya aja yang baru tau. Namanya juga 3D.

Untuk filmnya sendiri, mungkin bisa di cek sendiri lah ya bijimana sinopsisnya. Takut nyepoiler juga. Tapi yang benar-benar membuat seorang pro-toiletman sepertiku terkesima selain mbak-mbak rok belahan *fix* sepaha tadi #astaghfirullah~, adalah efek 3D yang diberikan film Transformers : The Last Knights. Terlebih pada saat scene adu tembak dan jotos antar Autobot vs Decepticon. Pecahan logam dan debunya seakan-akan benar-benar mengenai mataku. Bahkan beberapa kali aku menutup mata karena reflek takut terkena pecahan kapal tempur yang terlempar kearahku. Dipadukan dengan sound efek yang dahsyat hingga menggetarkan ruangan. Rasanya udah beneran kayak dibawa masuk ke dalam adegan film tersebut. Bahkan ketika aku izin ke toilet pun, getarannya masih kerasa di atap toilet yang aku masuki.

Di beberapa scene, memang kadang pesawat-pesawat tempur yang seharusnya gagah dan keren malah terlihat seperti maenan hadiah ciki. Ataupun klimaks cerita yang puncaknya, menurutku pribadi masih kurang greget. Tapi secara keseluruhan, film Transformers : The Last Knights versi 3D ini, sangat worth to watch. Terutama dalam versi 3D. Ngga kehitung rasanya aku berdecak kagum pada beberapa scene yang ada pada film ini. Norak sih mungkin lebih tepatnya. Haha. Ngedip aja eman-eman deh. Bahkan meskipun yang duduk di kursi sebelah ternyata gebetan yang aku ajak dan ngga mau, alesannya mau kerja kelompok, eh ternyata jalan sama cowok lain, ya ngga bakal nyadar dan nyadar pun bakalan dicuekin. Dianya yang nyuekin aku sih. Kalo akunya mah ya paling nangis dikit sesenggukan ngabisin tisu pas filmnya kelar di toilet ntar. Haha. Puk puk mblo~

Sebagai penutup, film-film 3D seperti ini akan sangat terasa nikmat, jika memang di dalamnya terdapat banyak efek ledakan dan pertempuran yang menghasilkan pecahan-pecahan yang mengarah ke mata kita. Juga adegan-adegan yang bisa membawa masuk penonton ke dalam film melalui kacamata 3D. Pantas untuk dicoba lagi lain waktu. Jadi... Kamu kapan mau aku ajak nonton? #uhhuk

Wassalam!
Share:

Minggu, 11 Juni 2017

Mahasiswa Semester Tua, Dosen Tercinta, dan Notebook ASUS E202

http://www.uniekkaswarganti.com/2017/05/ASUS-E202-blog-competition-produktif-dan-kreatif-di-mana-saja-dengan-notebook.html

Mahasiswa. Rasanya baru kemarin, keluar rumah dengan setelan super stylish, rambut hitam klimis, sepatu yang bebas warna-warni ala-ala model british. Rasanya baru kemarin, hari pertama setelah daftar ulang, hari dimana aku resmi menyandang ‘taitel’ mahasiswa baru. Saking senengnya, udah ngga bisa lagi bedain mana kaos kaki bagian kanan mana yang kiri. Dan rasanya, juga baru kemarin sih, aku kembali mengenang masa-masa mahasiswa baru tersebut dan merindukannya. Tepat setelah naik turun lantai 4 dengan laptop kesayangan seberat (-+ 2.5 KG), kemudian 5 jam nungguin dosen buat maju presentasi, ternyata diganti besok.

Aku adalah mahasiswa semester enam, jurusan Teknik Informatika. Udah masuk kategori tua. Adeknya udah dua. Dua angkatan maksudnya. Dan setelah penerimaan mahasiswa baru nanti, aku akan menjadi angkatan yang benar-benar tertua. Semester enam memang masih belum berurusan dengan tugas akhir. Tapi percayalah, semakin tua semesternya anak teknik, tugasnya udah hampir mirip tugas akhir. Dikit-dikit proposal, presentasi, project, dan laporan. Semuanya diulek mesra dan dibumbui lengkap dengan cerita nungguin dosen yang tak kunjung datang ((di lantai 4)), ngantri presentasi lama pas udah mendekati giliran eh diganti besok ((di lantai 4)), dan pas maju, laptopnya lemot, baterenya mau abis, chargernya ketinggalan, file presentasinya juga kelupaan, kemudian papasan sama mantan yang lagi gandengan tangan *sok mesra* sama pacar barunya. Sakit! Tapi ngga berdarah~
Seandainya punya laptop yang punya HDD gede, baterenya tahan lama, enteng buat diajak kencan naik turun lantai 4. Seandainya...

foto oleh : Nerd Review ID

Salah satu jalan pelarian depresiku ialah dengan browsing di lab kampus. Sekedar mencari hiburan di youtube, nulis curhatan ngga jelas kayak gini di blog, stalking akun sosmed teman, gebetan, mantan yang tadi, kadang juga pacar teman. Paling tidak dengan hal-hal tersebut aku bisa sejenak melupakan status semester tua ku. Meskipun tidak dengan status jombloku sih ya ~

Hingga akhirnya browsing yang kulakukan dikala iseng, menghasilkan sebuah keisengan lain setelah membaca info pada gambar di paling atas. Lomba blog yang berhadiah 10 Notebook Asus E202 GRATIS!!! ((kalau menang)). Salah satu syaratnya, cukup dengan menuliskan ‘seandainya’ aku punya Notebook Asus E202.

*penampakan* Notebook ASUS E202

Sebenarnya sih, notebook tidak terlalu cocok untuk anak teknik informatika. Yang notabene butuh laptop dengan ‘spek’ tinggi untuk setiap tugas-tugas yang berhubungan dengan pengembangan software. Tetapi kalau untuk garap dokumen TA, presentasi, laporan, ngopy-paste dokumen dan mungkin untuk pengembangan software di bidang web, aku rasa notebook adalah pilihan yang tepat. Setidaknya bisa sedikit meringankan beban mahasiswa semester tua sepertiku. Mengapa bisa begitu? Mari simak sedikit tentang :


Seandainya mahasiswa semester tua sepertiku, punya Notebook ASUS E202


 

Ringan

Point pertama dan yang paling jelas ialah ringan. Notebook ASUS E202 hanya memiliki berat 1,25 KG dengan ukuran layar 11,6 inci. Tidak lebih berat dari belanjaan ibu-ibu yang udah 3 jam keliling di pasar. Apalagi beratnya menerima kenyataan bahwa akun instagram gebetan yang biasa kita stalking, tiba-tiba di lock, sedang akun kita tak kunjung di follback. Memang karena hal inilah notebook masih banyak diminati terutama bagi para pekerja pengejar deadline. Mahasiswa semester tua adalah salah satunya. Apalagi jika kuliahnya yang selalu kebagian ruangan di lantai 4 setiap harinya. Setidaknya, ini bisa sedikit mengurangi beban hidupmu, nak!

foto oleh : Audrey FF

Tipis

Notebook ASUS E202 memiliki ketebalan 2,14 cm. Serta dimensi 29,7 x 19,4 cm yang bahkan tidak lebih besar dari ukuran kertas A4. Jika dibandingkan dengan tebal tugas laporan yang biasa aku kerjakan, tentu notebook ini menang jauh. Meskipun ngga akan bisa menandingi tipisnya dompetku sih. Haha. Dengan ukuran tersebut, tentunya akan mudah jika dimasukkan ke dalam tas yang udah penuh sama file laporan tadi. Ngga perlu nenteng-nenteng map kesana-kemari lagi.


HDD Gede

Menurutku pribadi, yang mengejutkan dari Notebook ASUS E202 ini ialah kapasitas hardisknya. Yaitu sebesar 500GB. Sama persis dengan laptop ‘butut’ terkasih yang aku kencani sekarang. Dengan kapasitas penyimpanan sebesar ini, aku ngga bakalan perlu flaskdisk ataupun hardisk eksternal lagi untuk menyimpan file dokumen laporanku. Bahkan ngga mustahil pula kalau aku buka usaha sebagai makelar film drama korea dan india sekaligus. Full episode bluray 1080 HD bersubtitle. Tinggal bikin list harga deh, sekali copy berapa.


Batere Awet

Salah satu keunggulan notebook dibandingkan laptop adalah daya tahan baterainya. Notebook ASUS E202 memiliki daya tahan hingga 8 jam dalam pemakaian normal. Ini akan sangat membantu ketika presentasi. Ngga perlu ribet-ribet lagi nyari colokan. Ataupun bawa-bawa kabel terminal dengan tiga lubang colokan. Yang kalau ditinggal bentar, tiba-tiba udah penuh aja. Mistis! Kemampuan ini dimungkinkan karena komponen prosesor Intel Celeron Dual Core N3060 generasi kelima atau Braswell yang digunakan ASUS E202, memiliki nilai Thermal Design Power (TDP) yang kecil, yakni hanya sebesar 6 watt. Serta untuk pengisian ulangnya, notebook mungil nan lucu ini sudah dilengkapi port USB 3.1 Type-C yang sangat hemat waktu, karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya. Kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0


Pilihan Warna Banyak

Dijaman dimana jumlah follower instagram adalah segalanya. Banyak love disetiap foto yang diupload adalah bukti eksistensi kita. Penampilan stylish nan kekinian adalah kiblatnya. Menuntut segala benda yang kita bawa wajib hukumnya ‘instagramable’ buat difoto. Dan Notebook ASUS E202 benar-benar peka akan hal itu. Terbukti dengan adanya pilihan warna Silk White, Dark Blue, Thunder Blue, dan Red Rogue. Tinggal cocokin aja sama warna kancing baju kita. Haha.

foto oleh : Audrey FF

Murah Meriah

Sebagai the real mahasiswa yang juga menyandang status pro-toiletman, point ini hampir menjadi penentu segalanya. Kurang lebih, analoginya begini. Jika ditawari mau makan enak tapi agak mahal, atau makan biasa aja tapi porsinya banyak dan murah, tentu aku akan memilih makan enak porsi banyak harga murah lah. Haha. Sama persis seperti Notebook ASUS E202 yang ringan, tipis, HDDnya gede, baterenya awet, nan instagramable ini. Ditambah lagi Notebook ASUS E202 ini ternyata sudah hadir dengan OS Windows 10 dan DOS di dalamnya. Dan harganya? hanya dibandrol dengan harga Rp. 3.099.000.,- 

Seandainya punya laptop yang punya HDD gede, baterenya tahan lama, enteng buat diajak kencan naik turun lantai 4. Seandainya... punya Notebook ASUS E202~

Kesimpulannya, Notebook ASUS E202 adalah pilihan tepat untuk menunjang kinerja mahasiswa semester tua sepertiku. Mengerjakan laporan, presentasi, ngopy-paste tugas, semuanya bisa dilakukan dimana saja. Dan juga, minimal beban olahragaku naik turun lantai 4 untuk bertemu dengan dosen tercinta, ya bisa berkuranglah meskipun sedikit. Bisa juga punya usaha sampingan makelar drama korea dan india sekaligus. Untung-untung kalau emang rejeki bisa tambah famous di instagram dan akhirnya di follback sama gebetan.

Haha.#dasarJomblo!

Wassalam!




Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com
*segala foto yang ada di postingan ini merupakan salah satu
dari bahan untuk lomba yang disediakan oleh ASUS*
Share:

Senin, 05 Juni 2017

Pengalaman Pertama Kali Naik Pisang Ngambang


Mungkin bagi sebagian orang, pengalaman ku tentang naik pisang ngambang ini akan terkesan norak. Kampungan. Terlalu biasa. Ngga ada faedahnya sama sekali. Tapi yang namanya pengalaman pertama, meskipun cuma misal; pertama kali mandi pake air anget, di hotel, dengan bak mandi yang bentuknya cangkir, yang kalau ngga sengaja kejatuhan teh celup ama gula aja, bakalan jadi teh anget Rp.2000-an. Tapi ya akan tetap berkesan dan teringat selalu gitu. Apalagi kalo untuk menyalakan airnya saja, kudu nelpon pelayan kamar hotelnya terlebih dahulu. Karena ternyata... kran untuk nyalain airnya, itu ditekan. Bukan di puter. Gaes!

*bentar... Ini pengalaman pribadi ya bang?*

#uhuk #uhuk #uhuk #ekhm

Bedewe eniwe baswe #RIPEnglish. Pisang ngambang yang aku maksud disini ialah sebuah wahana permainan biasanya ada di pantai, tak terkecuali Pantai Sembilan Gili Genting. Bentuknya mirip pisang memanjang. Warnanya kuning. Bisa dinaikin. Cara mainnya ditarik-tarik pake speed boat. Dan yang pasti, benda ini ngga bau. Relax. Anak hitz yang follower instagramnya dibawah 1K sih, nyebutnya Banana Boat.

foto oleh : @ilhambagus.p

Kesempatan untuk merasakan bagaimana sensasi naik pisang ngambang ini, sebenarnya adalah bagian dari agenda #LenjelenBareng Komunitas Blogger Madura (Plat-M) ke Gili Genting. Berlokasi di Pantai Sembilan, rombongan kami harus dibagi menjadi dua kelompok. Karena kuota pisang ngambangnya ini hanya bisa menampung tujuh orang saja sekali jalan.

Baca juga : Pulau Gerah itu, Biasa di Panggil Gili Genting

Kelompok pertama meluncur dengan girangnya. Basah-basahan. Teriak-teriak ngga jelas. Tertawa bahagia. Norak parah! Malu-maluin! Haha. Aku? Aku sementara ditugasi sebagai seorang kameraman. Yang pada kenyataannya, malah sibuk maen sendiri sih.

Hingga akhirnya mereka kembali ke tepian dengan wajah yang senang, tapi ‘agak gimana gitu’. Bukan karena diputusin mantan pas lagi naik pisang ngambang lho ya. Karena kalo udah mantan ya artinya ngga bakalan bisa diputusin #lol #apasih. Tapi karena mereka ngga jatuh ke laut ketika naik pisang ngambang. Padahal, menurut ‘katanya-katanya’ yang sudah pernah naik pisang ngambang, puncak keseruan naik pisang ngambang adalah saat jatuh terhempas ke lautan.

Kelompok pertama... Kalian lemah!

Sadar akan hal itu, aku dan teman-teman yang ikut kelompok kedua, mulai menyusun rencana untuk jatuh cinta. Kami pun mulai naik satu-persatu ke atas pisang ngambang. Tak lupa juga menggunakan pelampung untuk keselamatan. Ketika semua orang sudah dipastikan naik, teman-temanku memantapkan posisi duduk mereka dengan memegang tali yang ada di badan pisang ngambang. Anehnya, aku tidak bisa menemukan tali pegangan tersebut. Ku raba-raba seluruh badan dari si pisang ngambang, mulai dari atas hingga bawah. Lalu “Kyaaaah!” #loh?. Ternyata, yang ku raba adalah teman yang duduk di depanku. Cowok. Hmmmm ~

Aku pun masih terus berusaha mencari. Dan kali ini benar-benar di badan pisang ngambang. Namun, masih tak bisa ku temukan juga. Usut punya usut ternyata eh ternyata berjudi itu haram, penumpang yang ada di badan pisang ngambang kelompok kedua ada delapan orang. Ya, artinya ada satu penyeludup di antara kita. Dan dia adalah sang ‘klebun tuah Plat-M’ Mas Wahyu Alam, yang memaksa ikut lagi setelah ikut juga di kelompok pertama tadi. Walhasil, aku pun harus rela berjuang, walau tanpa pegangan. OKE! Lets do it!

Speed boat berangkat dengan tali yang sudah terikat kuat diujung pisang ngambang kami. Cipratan air laut mulai yang menghempas muka, rambut, bahkan bulu hidungku. Membuatku entah kenapa juga jadi persis kayak kelompok sebelumnya. Teriak-teriak gak jelas, bak nembak gebetan dan diterima ketika nonton konser JKT48. Sopir pun mulai memutar kendali speed boat ke kanan dan kiri. Kami pun meresponnya dengan rencana yang sudah disusun sebelumnya. Ya, kami ingin jatuh.

Hingga akhirnya, setelah beberapa kali belokan. Pisang ngambang yang kami tumpangi benar-benar oleng dan menghempaskan semua yang ada diatasnya ke laut. Entah itu orangnya, kegelisahannya, kecuali hutangnya sih. Hutang harus tetap di bayar lho gaes. Haha. Aku masih ingat betul bagaimana rasanya hempasan kala itu. Tepat saat aku terjatuh ke dalam air, aku merasakan benturan di belakang kepalaku. Entah itu mungkin kaki, bokong atau mungkin perasaan yang tak terbalaskan di masa lalu. Untungya, karena sedang ada di dalam air benturan yang terjadi tidak terasa sakit. Hanya beberapa detik mungkin, hingga akhirnya kami semua kembali mengapung karena pelampung yang kami kenakan. Ternyata memang benar apa yang dikatakan ‘katanya-katanya’ di luar sana. Sensasi ketika jatuh dari pisang ngambang, dan lalu jadi manusia ngambang dilautan, itu seru. Parah. Bodolah dibilang norak. Hahaha. 

foto oleh : @zamsjourney


Karena sensasi tadi pula, kelompok kami pun terjatuh hingga 3 kali lagi. Namun untuk jatuh yang selanjutnya, benturan-benturan seperti diawal tadi bisa diminimalisir. Tipsnya adalah dengan segera melepaskan pegangan tangan kita, ketika dirasa sudah mau jatuh ke laut. Sensasinya masih sama seru. Namun selaras juga dengan rasa capeknya. Jatuh dari pisang ngambang benar-benar akan menguras tenaga. Karena untuk kembali naik ke atas pisang ngambang tadi, itu susahnya minta ampun. Bahkan lebih susah dan capek dari ngode ke gebetan yang urat peka-nya udah digadaikan. Lisensi pro-toiletman ku rasanya pengen diganti buat jadi cicak-man supaya bisa gampang naiknya lagi.

Senja yang mulai menjingga menemani sisa putaran terakhir kelompok kami. Ah, benar-benar pengalaman yang super seru. Faedahnya emang kurang sih, tapi berkesannya itu yang membuat pengen naik lagi dan jatuh-jatuhan lagi. Dan buat kelompok pertama yang ngga ngerasain jatuh... You don’t know what i feel man ~

Biaya untuk sekali naik pisang ngambang di Gili Genting ialah Rp.200.000,- untuk tujuh orang. Terima kasih untuk Plat-M yang sudah memberikan kesempatan untuk merasakan pengalaman naik pisang ngambang ini. Ditunggu kesempatan berikutnya ~

Wassalam!
Share:

Jumat, 26 Mei 2017

Pulau Gerah itu, Biasa Dipanggil Gili Genting


Cukuplah papan bercat putih sederhana dengan tulisan “Selamat Datang di Gili Genting”. Ngga perlu sambutan kebudayaan daerah. Ngga perlu hamparan karpet merah. Apalagi lambaian-lambaian tangan dari barisan kembang desa berbibir merah. Sama sekali ngga perlu. Yang aku harapkan saat ini ialah sesuatu yang beribu-ribu kali lebih penting dari hal itu. Sebuah papan. Papan ucapan selamat datang dengan penunjuk arah toilet dibawahnya. Ya, Cukup itu. Bayangkan saja, bagaimana rasanya 5 jam perjalan dengan beberapa kali macet, peluh yang bercucuran karena kepanasan, dan lomba nahan ngantuk of the year yang entah kenapa tiba-tiba terjadi sepanjang perjalanan Bangkalan - Sumenep.

Lalu sebagai guest-starnya, aku masih harus menahan kebelet 'bi-ei-bi' (baca: BAB) disepanjang perjalanan tersebut. Berat? Bahkan untuk seorang pro-toiletman verified centangnya tiga sepertiku, situasi seperti ini adalah situasi yang paling menyiksa. Lebih menyiksa dari jempol kaki yang kepentok meja. Lebih menyakitkan dari bulu kaki yang dicabut dan digoreng dadakan pake lakban. Lebih menderita dari pada ngeliat Raisa tunangan sama Hamish Daud yang cuma modal kacamata dan brewok 'agak' elegan. Ini... Yang seharusnya disebut sakit, tapi ngga berdarah~

*agak bau dikit ya ngga juga sih, kalo bau banget iya...

*duh

***

The Begining

Saat ini, aku sedang berada di atas perahu yang akan membawaku menuju Gili Genting. Berikut rombongan Nak-kanak Blogger Plat-M. Berikut penumpang lain yang juga ingin menyebrang (fyi: biaya menyebrang 10rb/orang). Berikut penderitaan yang sudah aku beberkan dua paragraf sebelumnya. Berikut pula ombak yang entah kenapa hari itu lumayan gede. Hingga cukup membuat pusing kepala bahkan sebelum perahu berangkat. Dan akibat 'berikut-berikut' tersebutlah, aku hanya mampu mengharapkan sebuah papan dengan penunjuk toilet disebelah mana, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Gili Genting.

Hasilnya... Nihil!


Malah view kek begitu yang pertama kali diberikan sama Gili Genting. Air yang super bening lengkap dengan ikan-ikan kecil yang berenang menjauhi perahu. Tega! Mana ucapan selamat datangnya? Mana papan yang biasa buat foto instagram itu? Mana? Yang lebih penting lagi, mana papan penunjuk toiletnya Gili Genting? Mana?!! Belum juga turun dari perahu, masak udah dibikin gagal move on. Ah!

Aku pun turun dengan kekecewaan yang meluap-luap. Jika diibaratkan, udah persis kayak air tandon yang meluber gara-gara lupa dimatiin. Lupa dimatiin selama 3 hari. Terlebih, saat aku sadar rasa mules yang sedari tadi ku tahan dengan penuh penderitaan, hilang entah kemana. Hancurlah sudah rencanaku untuk menceritakan bagaimana pengalaman menikmati toilet ketika pertama kali sampai di Gili Genting.

Masih dengan segala kekecewaan tersebut, aku dan teman-teman Plat-M menyegerakan langkah kaki menuju homestay yang sudah disiapkan oleh Kepala Desa Bringsang. Ya, terkadang wisatawan yang berkunjung ke Gili Genting memang akan dilayani Pak Klebun langsung (sebutan Kepala Desa dalam Bahasa Madura). Kami pun menghabiskan waktu dengan makan dan beristirahat siang itu. Karena selain cuaca sedang panas cerahnya, perjalanan kami pun tidak mudah. Dan berkat itulah, rasa mulesku kembali. Yes! Aku pun bergegas menuju masjid yang berada di dekat homestay. Finally, kewajibanku sebagai seorang muslim dan pro-toiletman, sudah terpenuhi. Alhamdulillah ~

*ngga penting banget sumpah :v

Pesona Sunset dan Mbak-mbak di Pantai Sembilan

Sore hari pun tiba tanpa diundang. Ibarat mantan yang tiba-tiba ngechat setelah lama hilang tanpa kabar. Kami memutuskan untuk bermain Banana Boat dan menikmati sunset di Pantai Sembilan, Gili Genting.

foto oleh : @ilhambagus.p

Pantai Sembilan inilah yang memang sedang gencar dipromosikan. Pasirnya putih. Airnya biru jernih. Fasilitas yang lengkap, meskipun toilet/kamar mandinya agak tersembunyi sih. Ayunan, tempat berjemur, papan tulisan, rangkaian daun berbentuk love, hingga ranjang bekas yang sudah 100% instagramable banget. Tinggal cari saja mbak-mbak yang mau diseret atau difoto secara diam-diam. Yakali ngga sengaja typo bilang ijab kabul, pas disahkan sama penghulu yang juga tiba-tiba muncul entah dari mana, kan ya lumayan. Hahaha. #apasih #dasarJomblo #abaikan

foto oleh : @fadelabuaufa
foto oleh : @fadelabuaufa

Bibir pantai sembilan ini benar-benar sempurna. Persis bibirnya Isyana yang kepedesan gara-gara Mie Ayam Pak Halim. Hot! Merah! dan bikin gerah! Selama tidak dalam keadaan mendung, prosesi mulai dari matahari menjadi jingga, turun perlahan hingga terbenam, benar-benar terlihat jelas dari pantai ini. Sudah pasirnya putih, airnya jernih, sunsetnya begituh. Gimana ngga mau typo ijab kabul disini ya kan? Iya kan mbak?? Lihat aku donk Mbak! Plis mbak!!! Hey!!! MBAK!!!

*mbaknya masih ngga noleh

*malah masnya yang noleh

*lalu aku juga noleh, biar dikira orang di belakangku yang berteriak

*padahal dibelakang ya ngga ada orang, sih.

*hingga akhirnya mereka hidup bahagia, selamanya*

- Terpaksa END -

Dan ketika malam tiba, Pantai Sembilan ini masih saja ramai pengunjung. Sekedar ngopi ditemani semilir angin laut kayaknya sudah bisa dikategorikan romantis, ya kan?

*cowok di depanku ngangguk

#omaigat!

- KALI INI END BENERAN -


Mencari Toilet di Koreanya Pantai Kahuripan Gili Genting

Keesokan harinya, kami melanjutkan eksplorasi ke Pantai Kahuripan. Masih di Gili Genting, namun berbeda desa dengan Pantai Sembilan. Untuk menuju ke Pantai Kahuripan, kami harus menyewa satu buah pick-up. Karena memang jaraknya cukup jauh. Sekitar 30 menit perjalanan. Dan karena kami berencana untuk mengejar sunrise, walhasil kami pun harus diospek untuk bangun pagi buta. Meskipun akhirnya mataharinya keburu terbit sih. Tapi Pantai Kahuripan benar-benar menawarkan pesona yang bertolak belakang dengan Pantai Sembilan.


Pantai Kahuripan merupakan tebing-tebing curam dengan ombak yang cukup besar yang selalu menghantamnya. Airnya juga biru, namun benar-benar belum ada fasilitas sama sekali disini. Suasananya masih sangat alami. Ditambah lagi dengan pohon-pohon yang entah apa namanya berjejer layaknya pagar alami sepanjang tebing. Dan yang pasti, adalah sunrise point yang tak henti-hentinya membuat aku lupa bahwa ngga ada toilet disini.

foto oleh : @niyasyah

Dan sebagai bonus, jalan untuk menuju Pantai Kahuripan ternyata juga punya pesonanya sendiri. Jalan yang katanya mirip kayak di Korea. Ngga tau juga itu Korea Utara atau Selatan. Yang pasti, ketika berjalan disini aku juga masih tidak bisa menemukan toiletnya sebelah mana. Bodo lah ya, intinya, tempat ini fix! Ada dan tercipta memang untuk di-instagramkan. #udahgituaja



***

And then, This is would be the end of the story

Sebagaimana semestinya sebuah cerita yang memiliki awal, begitu pula dengan ceritaku ini. Tibalah kita pada sebuah akhir. Meskipun bukan untuk selamanya sih. Semoga. Amin. Haha.

Well, sebenarnya sudah sekian lama aku ingin berkunjung ke pulau ini. Ya gara-garanya juga karena ngga sengaja liat salah satu foto teman yang berkunjung kesini. Hingga akhirnya, baru kemarin kesampaian untuk berkunjung bersama teman-teman Komunitas Blogger Madura (Plat-M). Perjalanan yang diawali dengan begitu penuh peluh, gelak tawa, sakit perut, hingga lomba menahan ngantuk of the year. Menelusuri dua pantai dengan suasana yang berbeda. Namun hasilnya tetap sama. Gerah!.

Big thanks to @bloggermadura (Plat-M.com)

Gili Genting, begitulah pulau itu biasa di panggil. Masih pengen balik lagi, maen lagi, gerah lagi. Dan untuk itu, aku sudah memantapkan batin untuk gagal move on dari Gili Genting.

*mode ala-ala Cinta di AADC2*

Gili Genting... Yang kamu lakuin ke aku itu... Jahat!

Wassalam!

Credit :
Terima kasih banyak juga kepadan spesial Guide kami Mas Vicky (Madura Indah Wisata) dan Mas Fadel (@fadelabuaufa). Pelayanan mereka berdua, totalitas!
Share: