Sabtu, 13 Mei 2017

Dear, Mbak Petugas Pom Bensin


Mbak, apa kabar mbak hari ini? Masih sehat kan? Masih tetep ngademin kan? Semoga Mbak masih selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan selama ini. Ngga terasa, waktu begitu cepat berlalu. Bak genangan air di aspal jalan tol yang terkena sinar matahari. Menguap habis tak berbekas. Kira-kira masih ingatkah Mbak kepadaku? Hahaha. Pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang bahkan sudah tahu jawabannya apa, tapi masih juga dipertanyakan. Ya gimana mau inget ya Mbak, setiap harinya saja ada beratus-ratus pria yang juga Mbak temui di tempat itu. Pria-pria yang bahkan lebih tampan dan mapan dibandingkan dengan ampas cincau seperti diriku. Mbak pasti selalu menyapa mereka dengan ramah. Mbak bagikan senyuman manis itu kepada mereka dengan mudahnya. Ya, senyuman itu.
“Selamat pagi, dimulai dari nol ya mas”

Begitu menenangkan. Entah kenapa, kata-kata yang bahkan terlalu biasa saja ini terdengar begitu nyaman ditelinga. Dibalut dengan senyuman yang juga terlalu sederhana hingga tau-tau sudah penuh saja tanki bensin motorku. Wasit boleh minta tambahan waktu ngga?. Rasanya ingin berlama-lama aku diam disitu. Mengambil satu meja bundar dan dua kursi dari pintu ajaib Naruto. Duduk berdua saling berhadapan sembari sarapan mie telor sama teh anget. Bodo ametlah meski di tengah-tengah pom bensin. Sebuah imajinasi cetek yang mustahil terealisasi sih. Tanpa kusadari pula, antrian pria-pria setelahku sudah lumayan memanjang.



***



Simpel. Aku memanglah cowok yang bahkan 'terlalu simpel'. Hanya dilempari ucapan “Selamat pagi, dimulai dari nol ya mas” lalu diikuti senyuman setelahnya, sudah lemas tak berdaya. Penampilannya ya biasa. Berseragam merah dengan lambang Pertamina seperti karyawan lainnya. Hijabnya pun juga biasa. Tidak ada label harga yang sengaja dibiarkan ngga dicabut juga biar tau kalau itu hijab bermerek. Semuanya terlihat terlalu biasa saja. Lalu apa-apaan perasaan ini?

Apakah ini yang dinamakan cinta?

Hahaha. Oke, ini lebay.

Sebenarnya kisah ini hanya pengalaman receh yang sedikit aku lebih-lebihkan, sih. Tapi memang kejadiannya kurang lebih seperti itu. Dalam rangka magang untuk memenuhi salah satu kewajiban kuliah, aku dan 5 orang temanku berlagak jadi pekerja kantoran. Menyusuri padatnya jalanan kota Surabaya di pagi hari, dan kembali bergelut dengan kemacetan pada sore harinya.

Pagi itu... masih sama seperti pagi hari biasanya. Namun laju motorku harus terhenti untuk melakukan pengisian bahan bakar. Aku dan teman magangku pun harus menepi sejenak di pom bensin sisi kiri jalan raya. Motor ku tujukan perlahan ke tempat pengisian bensin yang sedang kosong. Dan disinilah, aku bertemu dengan Mbak petugas pom bensin.

Aku tidak tahu siapa namanya. Dia pun rasanya juga tidak ingin tau siapa seongok manusia di hadapannya. Namun, aku tetap disambut dengan ramah, komplit dengan senyuman itu. Keramahan yang selama ini ngga pernah aku temui ketika ngisi bensin di Madura. Bukan berarti pom bensin di Madura pelayanannya buruk sih. Hanya saja... aku rasa... dua paragraf awal ditulisan ini sudah cukup mengumpamakan kesan pertama yang aku dapatkan saat itu.


***


Lalu... Apa pentingnya nulis pengalaman ke pom bensin yang setiap hari orang lain juga lakukan setiap harinya?. Bukannya tulisan ini hanya curcolan receh dengan pemanis kelebay-an yang agak berlebih?. Intinya cuman ke pom bensin trus ketemu mbak-mbak cantik doank, kan?

Yes! Benar sekali. Pengalaman seperti ini, benar-benar ngga penting. Ngga guna. Lebay!. Receh parah sumpah!. Tapi eh tapi bang Napi ngga pake topi, pada pagi itu selain melakukan pengisian bahan bakar, aku juga harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ‘identitas’ diriku. Jika motorku perlu bahan bakar, maka aku perlu sedikit mengeluarkan sisa pembakaran. Aku harus mampir ke toilet. Dan jangan sekali-kali anggap remeh. Hal remeh seperti ini akan berakibat fatal ketika misal, kebelet tak tertahankan di tengah kemacetan panjang. Fix! Itu sakitnya berkepanjangan. Lebih sakit dari pada lihat mantan suap-suapan di warung penyetan.

Dan hal lainnya ialah tentang first impression! *mohon dikoreksi kalau tulisannya salah*. Atau lebih gampangnya, kesan pertama. Bagaimana pentingnya sebuah kesan pertama dari pandangan seorang pro-toiletman.

Ada sebuah pepatah mengatakan, jangan nilai seseorang hanya dari penampilan luarnya.

Tapi bagaimana dengan kesan pertama? Apa yang akan terlintas di pikiran kita ketika melihat seseorang berpenampilan seperti preman, berdiri di dekat pom bensin? Apakah kita masih akan memilih mengisi bensin di tempat tersebut? Sebagian orang, bahkan aku sekalipun tidak akan mau. Bukan perihal prasangka buruk, lebih ke waspada. Memang benar, yang penampilannya buruk belum tentu aslinya buruk pula. Begitupun sebaliknya, penampilan baik belum tentu aslinya baik. Tapi yang pasti, hal yang baik akan jadi lebih baik jika diikuti dengan perilaku dan penampilan yang baik pula. *mbulet? Anggap saja iya #selesai #abaikan*

Dari pom bensin yang biasa saja namun Mbak petugasnya punya senyuman luar biasa ini, setidaknya aku belajar, bahwa kesan pertama itu penting. Apalagi untuk pelanggan berhati over-simpel sepertiku. Dikasi toilet bersih aja udah betah, masih disambut Mbak petugas yang ngademinnya udah kayak es cendol gratisan panas-panas di siang bolong.

Dear, Mbak petugas pom bensin nan jauh disana... Selamat bertugas dan berbagi senyuman indahmu setiap hari ~
Share:

0 komentar:

Posting Komentar